Begini Cara Islam Mengatur Hidup Bertetangga Sesuai Alquran dan Hadits

Ilustrasi kehidupan bertetangg

JAKARTA –  Salah satu ciri masyarakat muslim adalah hidup bertetangga. Islam dengan jelas telah mengatur tata cara hidupan bertetangga.

Berbuat baik kepada tetangga dihitung pahala bagi umat muslim, terlebih lagi jika dilakukan bulan ramdhan, maka pahalnya akan dilipat gandakan oleh Allah SWT.

Allah SWT telah memerintahkan untuk berbuat baik kepada tetangga, baik itu tetangga jauh apalagi yang dekat, tentu kita lebih memperhatikannya.

Rasulullah SAW melalui sunnahnya juga begitu, menyuruh kita berbuat baik kepada tetangga, bahkan Jibril selalu berwasiat soal hak tetangga, sehingga Rasullah sampai menyangka Allah menjadikan tetangga sebagai ahli waris.

Banyak pendapat mengenai pengertian tetangga. Aisyah RA menerangkan, tetangga itu 40 rumah dari rumah kita, ke semua penjuru.

Sedangkan Ali Kwa mendefenisikan, tetangga adalah yang mendengar panggilan. Yaitu terdengar panggilan juga dipanggil tanpa pengeras suara.

Dalam Alquran dikatakan “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mem persekutukan-Nya dengan sesuatu pun.Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang- orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membang ga-banggakan diri” (QS an-Nisa: 36).

Rasulullah SAW juga pernah bersabda, “Sahabat yang baik di sisi Allah ialah yang paling baik terhadap temannya dan sebaik-baik tetangga adalah yang paling baik terhadap tetangganya” (HR at-Tirmidzi).

Dalam hadis lainnya, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya” (HR Bukhari dan Muslim).

Dilarang bagi siapapun untuk menyakiti tetangga. Sebab betapapun seorang dianggap sebagai ahli ibadah, tetapi jika dia menyakiti tetangganya, maka tempatnya adalah neraka.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Seorang laki- laki berkata kepada Rasulullah SAW. `Wahai Rasulullah, fulanah banyak shalat dan puasa, tetapi ia ucapannya suka menyakiti tetangganya.’ Rasulullah SAW bersabda, `Ia calon penghuni neraka.’ Laki-laki tersebut berkata lagi. Wahai Rasulullah, fulanah yang satu shalat dan puasanya biasa saja. Sedekahnya juga hanya sedikit, tetapi ia tidak suka menyakiti tetang ganya, Beliau berkata, Ia calon penduduk surga.

Sementara itu para ulama memabagi jenis tetangga kedalam tiga jenis. Pertama, tetangga yang memiliki satu hak. Tetangga yang berbeda agama atau keyakinan. Meskin pun kafir dia berhak menerima perlakuan baik.

Kedua, yang memiliki dua hak, yaitu sebagai tetangga dan juga sebagai orang muslim yang patut diperlakukan dengan baik.

Kemudian jenis ketiga, tetangga yang memilki tigak hak yaitu, sebagai tetangga, Muslim, dan juga sebagai kerabat.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk untuk memuliakan tetangga. Perlakuan kepada tentangga miskin tentu akan berbeda kepaa yang kaya, begitu juga dengan yang dekat dan jauh.

Rasulullah SAW menagatakan kepada Abu Dzar. “Jika kamu mamasak sayur, perbanyaklah kuahnya dan perhatikan tetanggamu,”

Dalam sabnya yang lain beliau berpesan, wahai wanita muslimah, janganlah kamu meremehkan tetangga sekalipun hanya dengan memberi telapak kaki kambing.

Dalam Ihya Ulumuddin Imam Ghazali mengatakannya, di antara hak tetangga yaitu mengucap salam, tidak melama-lamakan pembicaraan, tidak banyak bertanya tentang keadaan, sebab itu bisa menyakiti, kemudian menjenguk ketika sakit, dan takziah saat ada musibah menimpa.

Tetangga juga memilki hak merima ucapan selamat jika ada berita bahagia, tidak melihat aibnya, memaafkan jika kesalahannya, tidak membuang air di depan rumahnya, berbuat baik kepada anaknya, tidak menguping percakapan, tidak menyempitkan jalan, dan membimbingkan perkara agama yang belum dia pahami.

Semoga kita semua mampu berbuat baik kepada tetangga, sehingga Allah SWT menurunkan dan mencurahkan rahmatNya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.